Kamis, 23 Juli 2009

Dulu Meronta, Kini Meminta minta

Setelah membaca tulisan yang berjudul “Rumput Tetangga Lebih Hijau & Lebih Nikmat” aku terilhami untuk menuliskan pengalamanku bermain seks dengan tetanggaku sendiri walaupun jalan ceritanya berbeda dengan yang diceriterakan oleh penulis ceritera tersebut. Aku harus menjalani dulu perjuangan yang berat.

Aku, riyans_2000@hotmail.com, adalah seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang sudah berumur 7 tahun dan sudah bersekolah di kelas 1 SD. Karena anak kami masih kecil dan jarak antara rumah kami dengan SD tempat anak kami bersekolah cukup jauh maka setiap hari istriku mengantarkan anak kami ke sekolah. Kami mempunyai tetangga, suami istri, yang sudah sangat akrab dengan kami. Istrinya, sebut saja Heni, sangat akrab dengan istriku sehingga hampir setiap hari ia bermain ke rumah kami, dan kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia langsung masuk tanpa mengucapkan salam atau membunyikan bel. Suaminya sendiri bekerja di perusahaan swasta yang seringkali pulang malam dan kebetulan mereka belum dikaruniai anak.

Heni biasa memanggil istriku dengan sebutan Teteh sedangkan kepadaku ia biasa memanggil Mas Ary. Ia adalah seorang wanita yang cantik, kulitnya putih mulus, dan bodinya pun menggiurkan namun sangat bersahaja dan lugu, tidak pernah neko-neko, baik dalam cara berpakaian maupun cara bergaul, pokoknya polos. Kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia hanya memakai daster, atau kadang-kadang memakai kain, namun bagiku hal tersebut menjadikan dia sangat seksi. Aku merasa sangat senang kalau ia berkunjung ke rumah kami dan berlama-lama mengobrol dengan istriku sebab aku bisa berlama-lama pula mengintipnya dari balik garden kamar memperhatikan tubuhnya yang sintal. Bahkan kalau sudah tidak tahan aku pun melakukan onani sambil mengintipnya dan membayangkan seandainya tubuh Heni itu bugil dan aku menggumulinya. Bahkan tidak jarang ketika aku sedang menyetubuhi istriku pikiranku berfantasi seolah-olah aku sedang menyetubuhi Heni, dan memang dengan berfantasi seperti itu aku merasakan kenikmatan yang lebih dari biasanya. Namun aku sering merasa kesal karena orang yang sering kubayangkan tersebut selalu bersikap acuh terhadap diriku. Aku sering mencoba memancing ke arah pembicaraan yang agak menjurus namun ia tidak pernah menanggapinya, bahkan pura-pura tidak mendengarnya. Sikapnya tersebut membuat diriku semakin merasa penasaran.

Pada suatu hari istriku minta izin kepadaku untuk pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya agak jauh, setelah pulang dari sekolah anak kami, dan diperkirakan baru akan pulang ke rumah sore harinya. Aku pun tidak berkeberatan karena aku pun tidak akan pergi ke mana-mana sehingga tidak khawatir dengan keadaan rumah kami. Aku pun bersantai-santai saja di rumah sambil menyetel vcd porno yang tidak berani kusetel bila anak kami sedang berada di rumah. Aku menikmati tontonan yang merangsang tersebut sambil membayangkan bahwa yang bermain di dalam film porno tersebut adalah aku dan Heni. Aku terhanyut dalam bayangan bahwa diriku sedang menggumuli tubuh bugil Heni. Kebetulan sudah seminggu kontolku tidak mendapat jatah karena istriku sedang berhalangan. Kontolku sudah sangat ngaceng.

Sedang asyik-asyiknya aku menonton sambil mempermainkan kontolku tiba-tiba pintu yang lupa aku kunci dibuka orang sehingga kontan kumatikan vcd player yang sedang kusetel. Ternyata yang membuka pintu tersebut adalah Heni yang langsung masuk sambil memanggil-manggil istriku: “Teh ……. Teh ……”. Ia memakai kain dan baju atasannya agak terbuka atasnya, sehingga pangkal buah dadanya yang putih mulus dan montok terlihat sedikit. Kain yang dipakainya agak basah, mungkin ia baru selesai mencuci sehingga pinggulnya tercetak dengan jelas dan aku tidak melihat garis segitiga di balik kain yang dikenakannya itu sehingga aku berkeyakinan bahwa ia tidak memakai celana dalam. Hal itu menyebabkan aku semakin terangsang. “Mas, Tetehnya ke mana?” tanyanya. “Ke rumah saudara, pulangnya nanti sore!” jawabku, “Memangnya mau apa sih Hen?” tanyaku. “Anu Mas, mau pinjam seterikaan, kepunyaan saya rusak”. Datanglah setan membisikkan ke dalam diriku bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan hal yang selama ini selalu menjadi fantasiku. Aku berkata: “Biasanya sih di kamar tidur, ambil saja sendiri!”, padahal aku tahu bahwa seterikaan tersebut tidak disimpan di kamar tidur. Ketika Heni pergi ke kamar tidur untuk mencari seterikaan aku segera mengunci pintu agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencanaku. Kontolku sudah sangat keras karena ingin segera mendapat jatah.

Dari dalam kamar tidur terdengar Heni berkata: “Kok enggak ada Mas, di sebelah mana ya?” Aku pun masuk ke kamar tidur dengan hanya mengenakan sarung tanpa memakai celana dalam supaya rencanaku tidak terhambat dengan cd. Nampaknya Heni tidak menaruh curiga apa-apa. “Mungkin di bawah tempat tidur!” kataku. Kemudian Heni pun melihat ke bawah tempat tidur, tentu saja sambil menungging. Ketika Heni menungging aku melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dan sangat menggairahkan. Pantat Heni yang bahenol tercetak jelas pada kain yang dikenakannya, dan sekali lagi aku yakin bahwa Heni tidak memakai celana dalam karena aku tidak melihat garis segitiga pada pantatnya yang bahenol itu.

Karena sudah tidak tahan maka aku pun segera memeluk tubuh Heni dari belakang sambil menggesek-gesekkan kontolku pada pantatnya. Ternyata Heni memberikan reaksi yang tidak kuharapkan. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukanku sambil memaki-maki diriku, “Mas apa-apaan sih? Lepaskan diriku, aku tidak mau melakukan ini, kamu bajingan Mas, tidak kusangka!” Melihat reaksinya yang seperti itu pada mulanya aku pun merasa ragu untuk melanjutkan perbuatanku, namun rupanya bisikan setan lebih dahsyat daripada akal sehatku, sehingga walaupun Heni meronta-ronta sambil memaki-maki aku tidak peduli, bahkan aku semakin bernafsu.

“Ampun Mas, lepaskan aku, aku tidak mau melakukan hal yang seperti ini!” Heni berkata sambil menangis dan meronta-ronta. Aku semakin ganas, kuhempaskan tubuh Heni ke atas tempat tidur sambil kutarik kainnya secara paksa sehingga kain tersebut lepas dan terlihatlah kemaluan Heni yang ditumbuhi bulu yang lebat. Aku pun semakin bernafsu, aku berusaha untuk membuka pakaian bagian atasnya, namun aku mendapat kesulitan karena Heni selalu mendekapkan tangannya erat-erat di daarya sambil terus menangis, kakinya pun selalu dirapatkan erat-erat sambil menendang-nendang sehingga aku mendapat kesulitan untuk memasukkan tubuhku di sela-sela pahanya.

Mungkin karena sudah lelah atau karena lengah pada suatu kesempatan aku mendapat kesempatan untuk merenggangkan pahanya dan tubuhku berhasil masuk ke sela-sela pahanya. Dari sana aku berusaha untuk melepaskan pakaian bagian atas Heni dan sekaligus bh-nya yang pertahankan dengan gigih, sambil meronta-ronta, menjerit-jerit, memukul, dan mencakari tubuhku. Akhirnya aku berhasil menyobekkan pakaian bagian atasnya dan melepaskan bh-nya, dan aku pun berhasil mendaratkan bibirku pada susunya yang masih keras, maklum belum dipakai menyusui, kecuali suaminya. Tidak ayal lagi aku pun menciumi susunya dan sesekali mengulum putingnya dan menyedotnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah, namun ia masih terus melakukan perlawanan dengan cara meronta-ronta sambil menangis, walaupun rontaannya sudah agak melemah, entah karena kecapekan entah karena mulai terangsang. Sejalan dengan itu pertahanan pahanya pun mengendur sehingga lambat laun kontolku yang sudah super tegang berhasil menyentuh bagian luar memeknya dan kugesek-gesekkan kontolku untuk mencari lubang yang selama ini aku idam-idamkan.

Akhirnya kontolku berhasil menemukan lubang idaman tersebut, dan secara perlahan tapi pasti aku pun memasukkan kontolku ke dalam lubang tersebut. Ketika kontolku berhasil melakukan penetrasi ke dalam lubang memeknya serta merta terdengar mulut Heni mendesah dan merintih, badannya pun menjadi lemas, perlawanannya mengendur, dan ketika penetrasi kontolku kusempurnakan dengan tekanan yang mantap ia pun menjerit tertahan, “Aaaaaaahhhh ……… Maaaassssssss …………..”. Inilah reaksi yang sangat aku harapkan ….. Ketika kontolku aku naikturunkan dengan cepat pantat Heni pun mengimbanginya dengan gerakan sebaliknya. Sekarang bibirku pun dengan leluasa tanpa hambatan bermain di puting susunya, sesekali aku bergerilya di ketiaknya yang ditumbuhi bulu yang lebat, aromanya yang agak bau keringat sangat aku senangi sehingga semakin meningkatkan gairahku. Tangan Heni yang tadinya dipergunakan untuk memukuli dan mencakar tubuhku kini ia pergunakan untuk memeluk dan mengelus-elus punggungku. Tadinya ia menangis dan menjerit-jerit karena menolak kini ia menjerit-jerit dan mendesah serta mengerang karena gairah yang memuncak. “Aaaaaahhhhhh ……..…….. Eeeeeeeemmmmmmhh ……… Aduuuuuuuhhhhhhh ………. Ssssssshhhhhhh ………. Sssssssshhhhh ………… sssssshhhhhhh ………. Hhhhhhhmmmmmmmhhh ………….. Maaaaassssssss ……….. Nikmaaaaaaaaatttttttt”.

Heni meladeni semua permainanku dengan sangat agresif, kami berguling-guling di atas tempat tidur, kadang aku di atas kadang Heni yang di atas. Nampak sekali ia sangat menikmati permainan ini, sama sekali tidak tampak bekas-bekas penolakannya. Ketika aku suruh dia menungging untuk melakukan posisi dog-style ia menolak, “Jangaaaaaan Masssssssss, jangan dari dubuuuuur …… aku tidak suka, jijiiiiiiiiikkkkk” Rupanya ia mengira bahwa aku akan menyodominya karena oleh suaminya ia tidak pernah disetubuhi dari arah belakang. Aku pun memaksanya untuk menungging, posisi yang sangat aku sukai ketika bersetubuh dengan istriku. Dengan terpaksa Heni menuruti keinginanku. Pemandangan yang aku lihat saat Heni menungging semakin meningkatkan birahiku, pantatnya yang putih dan bulat serta memek berbulu yang terjepit oleh pahanya, aaaahhhh …….. sungguh menggairahkan. Segera aku arahkan kontolku yang masih sangat tegang itu ke arah memeknya yang terjepit oleh paha mulus. Ketika kontolku secara perlahan-lahan masuk ke dalam memeknya, Heni menggelepar-gelepar sambil kelojotan merasakan sensasi yang baru ia rasakan setelah beberapa tahun menikah. “Aaaaaaaaawwwwww ………….. Maaaassssssss ……….. Enak sekaliiiiiiiiiiiiii ……….. Terus Maaassssss jangan lepaskan kontolmuuuuuuuuuu ………. Adduuuuuuuuhhhhhhh ……….. teruuuuuus tekaaaannnnnnnnn yang keraaaaaaaaassss …….. kalau bisa dengan kanjutnyaaaaaaaa ……….! Tangannya menggapai-gapai ke belakang ingin menarik pantatku agar kontolku masuk lebih dalam lagi. Dengan leluasa pula kedua tanganku mempermainkan susunya yang menggelantung dengan indah. Maka erangan Heni pun semakin menjadi-jadi karena ia mendapat kenikmatan dari dua arah. Memeknya yang aku kocok terus dengan kontolku dan susunya yang terus aku permainkan dengan tanganku. Heni pun menjerit dan mengerang dengan histeris, mulutnya meracau mengeluarkan kata-kata jorok yang semakin merangsang diriku. “Maaaaaasssss ……….. jangan lepaskan kontolmu dari memekku, puaskanlah memekku dengan kontolmuuuuuuuu ……….. aku baru merasakan kenikmatan yang seperti ini, kontoooooolllllllll …………. Aaaaawwwww ………. Maaassssss, aku ingin agar kontolmu terus berada di dalam memekku ……. Aaaaaaaahhhhhhhhh ……….. sssssshhhhhhhhhhhhhh ………… sssssshhhhhhhhhh …………..

Kucabut kontolku dari memek Heni karena aku sudah merasa agak lelah dengan posisi tersebut. Heni menyangka bahwa aku akan menyelesaikan eweanku terhadap dirinya, ia marah-marah dan meminta agar aku segera memasukkan lagi kontolku ke dalam memeknya, “Mas jangan dicabut dong kontolnya, Aku belum orgasme nih! Ayo masukkan lagi! Aaaaahhhhh ……….. Kontolmu Maaaaasssss ………”. Namun aku mempunyai rencana lain. Aku minta agar Heni berbaring telentang dengan kaki menekuk. Aku segera mengarahkan mukaku ke memeknya, mula-mula aku jilati bagian dalam pahanya, kemudian aku jilati memeknya dan aku hisap itilnya. Diperlakukan demikian kontan Heni menjerit karena ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu, dan memang ia tidak pernah diperlakukan demikian oleh suaminya. Suaminya sangat konvensional. “Aaaaaawwwwww ……………… Maaaaaassssss ………. Geliiiiiiiiiiii …….. tapi nikmaaaaaaatt ………. Terus Mas hisap itilkuuuuuuuu ………, jilat memekkkuuuu ……… agak ke bawah Masss, ya …….. ya …….. benar disitu Maaaaasssss, ………. Aaaaaaaawwwwwww ………. Maaaasssssss …….. mana kontolmu …. Kesinikan …….. aku ingin mengulumnya ……..” Maka aku pun berputar untuk menyodorkan kontolku ke melut Heni, dan kami pun mempraktekkan posisi 69. Kontolku dijilati oleh Heni, kadang-kadang dikenyotnya dalam-dalam. Aku pun mengerang sambil terus menghisap memek Heni yang sudah dipenuhi oleh lendir.

Ketika aku merasa bahwa aku akan mencapai orgasme aku pun mencabut kontolku dari mulut Heni dan segera memasukkannya ke dalam memeknya sambil terus digenjot. Nampaknya Heni pun sama akan mencapai orgasme, gerakan pantatnya semakin liar, desahannya semakin kerap. Dan ketika aku merasa ada yang mendesak di dalam kontolku aku pun menekankannya keras-keras ke dalam memek Heni sambil memeluk tubuhnya erat-erat, Heni pun demikian pula, ia memeluk tubuhku erat-erat sambil menahan tekanan kontolku. Maka kami pun mengalami orgasme secara bersamaan dan kami pun sama-sama mengeluarkan suara erangan yang panjang sebagai tanda bahwa kami berada pada puncak kepuasan. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh …………. Ssssssshhhhhhhhhhhh …………….. Maaaaaaaaaaasssssss ………….., Heeeeeeeeeennnnnnnn. Tubuh kami pun terkulai bermandikan keringat, Heni memeluk erat-erat tubuhku seolah-olah tidak mau lepas selamanya. Ia berbisik dengan manja sambil nafasnya terengah-engah, “Mas maaf yah atas kelakuanku terhadap Mas Ary tadi! Tadinya Heni kira ngewe itu dengan siapa pun rasanya sama saja, ternyata ngewe dengan Mas Ary itu beribu-ribu kali lebih nikmat dibandingkan dengan ngewe bersama suami Heni. Terus terang saja kadang-kadang Heni merasa bosan ngewe dengan suami Heni karena ia hanya mementingkan diri sendiri. Baru kali ini Heni mengalami yang namanya orgasme. Ah kontol Mas Ary sangat perkasa, aaaahhhhh ………. Kontooooooool……. Kamu ini kok nikmat sekali!”. Sambil berkata demikian ia mempermainkan kontolku sehingga kontolku tegang kembali.

Melihat kontolku sudah ngaceng kembali Heni merengek meminta ngewe kembali. “Mas, ngewe kembali yu? Tuh kan kontolnya sudah tegang kembali, Heni akan meladeni Mas Ary sampai kapan pun kontol Mas Ary sanggup menancap di dalam memek Heni! Ayo dong Mas!” Aku pura-pura tidak mau (padahal nafsu sih sudah sampai ke puncak ubun-ubun) “Enggak mau ah nanti suamimu keburu pulang, lagi pula Heni kan mau menyeterika, kita cari saja seterikaan itu”. “Enggak Mas, suamiku sedang pergi ke luar kota, baru besok ia pulang. Soal seterikaan sekarang sudah menjadi nomor ke berapa, jauh lebih penting kontolmu Mas dibanding dengan seterikaan. Menyeterika itu seringkali terasa membosankan tetapi ngewe denganmu rasanya aku tidak akan pernah bosan maaaaaasss ……. Cepet doooongngng ……… coba raba memekku Mas, sudah sangat basaaahhhh masssss, ayo doooooong ……., kontoooooollllll …….”, Heni menjawab, ia tetap merengek meminta agar aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya, namun aku diam saja seperti tidak mau. Karena aku tidak bereaksi maka Heni pun mengambil inisiatif, ia segera naik ke atas tubuhku, menciumi dadaku, menyodorkan susunya ke mulutku agar kuhisap, menyodorkan ketiaknya agar aku menjilatnya, dan menyodorkan memeknya ke mukaku, “Mas, jilat dong memekku, hisap itilnya sesukamu, aku inghin mendapat kenikmatan lagi, silahkan dong Maaasssss …..!”. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang menggairahkan ini, segera aku menjilati memeknya dan menghisap itilnya, kadang-kadang menggigitnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah dan mengerang sambil pinggulnya tidak henti-hentinya menggelinjang, “Aaaahhhhh ……… Maaasssss ……… terus beri aku kenikmataaaaaan, aaaawwwww …….. jangan terlalu keras menggigitnya dooooong Mas, aaahhhhhhhh ………. Ssssshhhhhhh ……… ssssssshhhhhhh ……….. nikmaaaaaaat ……….”.

Tidak lama kemudian ia mengarahkan lubang memeknya ke arah kontolku yang memang sudah ngaceng dari tadi dan kontolku pun menyambutnya dan terus melakukan penetrasi sambil terus kunaikturunkan pantatku untuk mengimbangi goyangan pantat Heni. “Aaaaaaaaaaaahhhhhhhh ……….. ssssshhhhhhh ……..”, Heni pun menjerit karena merasa senang diperlakukan demikian, “aaaaaahhhhh …….. hmmmmmhhhhhh ………. Massssssss …….. terus tancapkan kontolmu ke dalam memekku ……… ssssshhhhhhhh ……. aku rela maaaasssss …….. Maaassss bulu kanjutmu menambah kenikmatan memekku maaaaasssss …….. aaaahhhhhhh ……. Kontoooollllll …….. Setelah berlangsung agak lama Heni meminta aku mencabut kontolku dan menusuknya dari belakang, “Maaaaasssss …….. cabut dulu kontolmuuuuuuuu …….. aku ingin ditusuk dari belakang aaaaahhhhhhhh ……… cepet maaasssss tusuk memekku dari belakaaaaaaang ……… Maaaaassssss …….. aaaaaaaahhhhh …….. sssshhhhhhhh …….. Maaassssss …….. Heni memang hebat, kini ia sangat agresif dan pandai merangsang serta memuaskan lawan mainnya. Ia langsung bisa mengimbangi permainanku dalam bersetubuh. Kami pun melakukan berbagai variasi
Judul: Nanda dan Nikmat Tubuhnya

Terasa terik menyengat sinar mentari disiang ini, laju sepeda motor matic-ku pun melaju dengan kencangnya. Sekali-kali mataku melirik spidometer tangki bensinku yang sebentar lagi akan terisi penuh oleh bensin di dekat renon, denpasar.

Saat itu ku kenakan jaket kesayangan ku merk At**** yg merupakan brain terkenal band kesayanganku ”Blink 182” begitu pula sepatuku ber merk Mac**** yg sama juga terkenalnya. Terlihat sosok gadis belia seumuranku 2 tahun yang lalu saat turun dari motor untuk mengantre, dan sekarang saya sendiri kini menginjak umur 18 tahun smester 2 di PTN fave Bali. Terlihat putih mulus kulitnya, begitu juga pakiannya girlie banget tak luput wajahnya yang menawan, membuatku tak karuan tak sengaja dipandang olehnya. Rasa grogi menyertaiku ketekia menyapa dengan kata

” hai!, sndiri ya.. jaket km keren, beli dmn? gua nyari kyk ntu kok gak nemu-nemu ya?”, katanya rada nyeroscos.

”hei, gw bli di b********** kmaren stoknya tinggal ini, hehe..kalo mau ntr bisa dibantu kok nyarina! hahaha..”,

sahut gw dengan deg degan. Maklum lah gw berparas biasa saja, namun banyak tman sma bilang kalo aku ganteng apalagi aku juga anak band. Tmn-tmn biasa memanggil saya Reno

”okey, thx ya..tapi gw cepet-cepet neh..”, sembari ia membalas
dan ia pergi begitu saja..

sial, hilang gitu aja tuh ikan gua, fikirku.

Sampai juga dirumah, dan kumelepas sapatu dan menaruh tasku yg berisi laptop yg selalu kubawa.
” Bluggghhh..... Fiuhh...!!”

terdegar suara seperti itu mungkin. Kulihat hp menunjukan pukul 4 sore, dan 3 pesan masuk dan semuanya dai tmn ku sma yang mengatakan akan main kerumaku yang dulunya tempat tangkringan anak-anak. kulempar hp tak peduli bgtu saja setelah membalas sms tersebut.

Jam telah menunjukan pukul 8 malam, setelah badanku harum dan perutku terisi penuh oleh lauk yg dimasakan mama, akhirnya tmanku si dio datang. Kedatanganya kusambut dgn memukul perutnya yang begitu besar,

”hey Jlek..pa kbr?”, lontar pertanyaan dari mulutnya

”haha.,,dasar gendut, baek..Cuma stres ama kuliahan neh! ntah gimana hasil uas kmaren blom jelas”, sahutku dengan nyroscossnya,,

Kita pun mengobrol panjang lebar sampe akhirnya dia pergi dan menitipkan sebuah nomor telepon temannya yang bernama Nanda. Dio sempet bercerita sedikit tentang Nanda yang berawakan sexy, putih, menggairahkan. langsung kubayangkan bagaimana jadinya ketika memerhatikan nomor itu.

Kumulai dari sebuah missed call yang kucoba ke nomernya, dan trnya ta, Greath!! nyambung. Alhirnya kuberanikan diriku mengirimkan sms ke dia.

”hai, Nanda ya? lam knal. reno”, pesan ku terkirim ternyata sangat kilat, tumben bgt nie operator gak sinting ”pikrku”

”hey, iya ini Nanda, lam knal. anak mna? Btw dpt nomerku drmn?” balasnya cukup lama, namun bergeas ku balas

”anak *******, dari Deo! hehe..”

sms kami lakukan hingga pukul 12 malam, ntah apa sja kami bicarakan. Sampai akhirnya dia menelponku. Terdengar suaranya yang ramah, rame, asik. Terlihat dipembicaraan kita pertama sangatlah akur dan nyambung, sehingga terbesit rasa yang tak biasa kurasakan. Topic demi topic pembicaraan terlontarkan hingga jam menunjukan 2 pagi, namun karena keasikan pembicaraan terus dilanjutkan. Sampai akhirnya sebuah topic tentang seks kita bicarakan, dan tercium bau kalau Nanda suka melakukan hubungan seksual dengan pacar sebelumnya, dan kitapun saling bertukar pengalaman kita masing-masing. Dan tersirat kata dari bibirnya

”main donk kesini, qt jalan kek ato gmn, mau?” pinta nanda

“okey, maybe lusa aja ya, skalian maen gitu ke rumah kakak spupu”, sahutku

”Ok, asik...udah ya, Nanda bobo dlu, Muacchhh” katanya langsung menutup telepon, dan kurasakan ada sambaran dengan kecupan dari jarak jauh tersebut.

Singakat waktu, hari itupun tiba. Ku pacu matic ku dengan rasa penasaran dan deg-degan yang selalu menghantui. Memang sulit mencari tempatnya kos, sampai aku memutar-mutar 3 kali. ”Damn!” fikirku, dan akhirnya ketemu juga nomer rumah kosnya. Kutelpon dia dari depan kosnya. Tak lam kutunggu keluarlah sesosok wnita cantik, putih bersih, bertoked kencang yang kelihatan dari kaosnya yang berwarna putih, sambil membawa handuk kecil mengusap-usapkan rambutnya yang terlihat sehabis keramas.

”hey, Reno? ayo masuk”, ajaknya

”iya, ok-ok”

sesampainya didalam rumah kos, kita berbincang ria diberan kosny yang pas banget ada sofa and mejanya. Lalu sebuah minuman botol menghampiriku. ”lega....” kurasa....hehe.

”eh no bole liat kamar kamu gak nda?”, pintaku

”eh, masuk aja kali..biasain aj, sory berantakan”

sudut demi sudut kupandangi, ternyata kamar yang lumayan untuk anak putri itu terdapat sbuah Tv, lemari, kasur, kipas angin dan WC didalam, dan kulihat pula beberapa pakaiannya yag dijemur, ”huhuh gila, g-string man!!!” fikirku..

sengaja dia rebahkan dirinya dikasur sembari menonton acara tv anak muda, dan kudekati dia. Ku duduk disampingnya dan menghadap ke tv. Sekali-kali kupandangi Nanda yang saat itu mngenakan kaos putih ketatnya, celana pendek diatas lutut, erlihat juga bra nya berwarna putih samar-samar.

”Nda, lu cantik ya, manis, No jd gmes ma km” sembari ku mencubut pipinya,

”aah....paan sih, pake nyubit segala, thx buat pujiannya”, sahutnya

Kurebahkan badanku sampingnya, dan terlihat dia enjoy aja dengan posisi itu. Lalu kita bercanda ria hingga sore menjelang. Kuberanikan diriku mendekatinya ebih dekat lagi, kucoba peluk dia. ”great!!”, dia tidak menolak sedikitpun, dan kuangkat dagunya, kulumat dengan lembut bibirnya yang sexy.

”mmmmMMmmphh......sluRRpppsssss....MMmmmpphh. .” terdengar suara lumatan kita berdua beradu saat itu. Kuberanikan diri untuk merangsangnya, kumulai dari turun kelehrnya, kuliat dia menggelinjang nikmat dengan perlakuanku yang serakah menjilati lehernya. Terkadang kusempatkan diri untuk menjilati telinganya”

”Aarrrghhh.....ssssshhh....OOOuuurrgghh...Noooo... ..eeemmpph...”, desahnya yang terdengar ditelingaku, takkusangka tanganya telah menyusup masuk kedalam celana jeans ku, dan mencoba untuk menggapai kntl ku yang sudah mengeras. Digenggamnya dengan erat kntlku olehnya, terlihat dia meremas-remas kntlku dengan ganasnya.

Tank mau kalah, ak melepas kaosnya yang ketat, kugapai kedua buah toketnya yang WOW...ukurannya menakjubkan bagiku, kutarik bra-nya kebawah lalu kujilat, kuisap, kusedot putingnya yang telah mengeras akibat rangsanganku. Terlihat olehnya tangan kiriku meremas-remas dengan ganasnya, sesekali ku pelintir putingnya. Mulutkupun semakin buas memainkan putingsusunya bergantian.

”oohhh...renn...ttrrrr,,,,,,,,,trrrruuss,,,renn,,, oh,....enak bgt ren......
udah lammm...aa...aku gak ngerasain belaian .......nikmat kayak gini”, eragnya begitu nikmat tersengal-sengal agak terputus-putus,

Kuberanikan diri untuk menulusuri kebawah, dengan tangan kiriku mencoba menyelip kedalam isi cd nya, tanpa halangan berhasil. Terasa bulu-bulu yang tercukur rapi tumbuh sektiar 1-2cm begitu lebat sesuai feel tanganku yang meraba, dan basah V-nya pun ak bisa dibendung lagi. ternyata nanda juga berusaha untuk mengocok Kntl ku yang keras ga karuan.

Mungkin karena sulit, dengan manjanya ia merayuku aga melapas seluruh bajuku. Kontan, ia dengan ganasnya membuka bajuku serta celana ku. Tiada pakian yang masih tersisa ditubuhku yang melekat lagi, lalu kupaksa ia juga membuka bajunya. seblum sempat kumembuka bajunya, tanganya denagn ganas menggapai Kntl ku, mendekatkan wajahnya dengan Kntlku, lalu mulai denagn kecupan mesra yang mengawali sentuhan bibirnya yang begitu sensual dengan Kntlku yang berukuran kurang lebih 18cm.

”sLuurrrppsss....mmmmmpphh...mmmmppHhhhh.......cup pz....slurpz.ss.....”; cuapan mulutnya menjelajahi senti demi senti bagian Kntlku. Tak pernah kurasakan kenikmatan Blowjob yang dilakukan Nanda, sungguh luar biasa. Sekitar 20 menit puas menjilati, mengulum Kntlku dengan ganas, kuberanikan diri untu memutar posisi tubuhnya, dan ku incar selangkangannya.

Kudapati V yang begitu menawan. Terlihat V berwarna pink, dengan kulit V yang masi kencang dan eknyal, beitu juga bulu-bulu yang tercukur rapi menawan. Mata lelaki mana yang tidak ingin mencicipi V yang begitu menawan seperti ini, fikirku sejenak. Langsung lidah ki mulai menjilati V-nya yang begitu sexy, seraya kubuka V-nya dengan jariku.

Mulai kujilati sedikit demi sedikit terjelajahi isi V Nanda. Tercium bau yang khas dari V Nanda.

”Ouuhhh.....mmmpphh.....Renn....Truss Ren.....oowwhh......Enak beibh....Oh.......mmmph”, Terlotar kata-kata sekan di begitu menikmati jilatan lidahku yang bgitu ganas merajahi isi-isinya, seraya ia mengigit bibirnya.

”Ohhhhmm.....Sayyaaaaaannnnnggg.....aaakkuu keluaaaarrrrrrrrr....oh......Mphh”,
Blassss....Orgasme pertama Nanda ditandakan dengan mucratnya cairan-cairan yang terpadu dilihaku. Kuisap-isap kembali hingga tubuhnya yang montok menggelinjang tak karuan.

”Renn...Masuukkkiinn please...aku udah ga tahaannn...mmpphh...”, pintanya lanjut dengan desahan-desahan dasyat

lalu ku mulai melepas V nya, kuancungkan Kntlku ke arah V-ny Nanda. Mulai ku gesek-gesekan Kntlku di antara belahan V-ny. terlihat wajahnya yang bergerak kekanan kiri terangag berat dengan perlakuanku. Kucoba masukkan Kntlku kedalam V-nya, dengan bantuan tanggan lebutnya juga menaikkan bulu-bulu yang menghalangi jalan kami.

”Awww....Ohh...pelan-pelan Ren”, pintanya padaku

Terasa sekali V-nya sangat keset, mungkin karena sudah lama Nanda tidak melakukan hubungan intim. Kudesak, dan agak kupaksa untuk memasukan penisku yang kelihatan sekali urat-utratnya (nanda sempat mengatakan kntlku kayak ktntl org arab, keras, berotot, sawo matang). Kutekan-tekan pinggulku agar lebih leuasa memasuki liang V-ny. BlAsss.... Akhirnya!

”Aww....Oooouugghh...mmmppphh...Oughh...genjot Say...please...”, rintih nanda ketika kntlku baru saja masuk kedala V-ny yang begitu nikmat.

Mulai kugerakan pinggul ke, melaju kedapan kebelakang dengan tempo yang santai, agar qta sama-sama bisa menikmati. Jujur kalau aku lebih suka hardcore, aku suka menggenjot dengan ganas hingga pasanganku tergeletak lemah, bahkan aku pernah mengeluarkan Sprm sendiri dengan tangan gara-gara pasanganku sudah tak kuat dengan gaya Hardcoreku. Kembali dengan permainanku dengan nanda, terasa sekali V nanda seperti memijatku dengan otot-otot V-ny.

”Oh.......beibhb.........mmmmpph...aku sayaaaaaaannnggg kkmmuuuu.,,,oohh..”, kudegar keluh nanda yang tak kupedulikan, yang kufikirkan adalah kenikmatan V-nya begitu menakjubkan.

Kini berganti posisi, nanada berada diatasku, menggerakan pantatnya naik turun begitu cepat dari sebelumnya. Masih terasa keset V-nanda dalam genjotan demi genjotan yang kita lalui bersama. tak kusia-siakan kesempatan yang ada, kumainkan kedua buah toketnya yang ranun. Kuremas-remas...kusedot-sedot, hingga kubuat banyak sekali tanda diekitar toketnya. hanya desahan yang kudengar dari bibirnya yang sexy, kulumat kulepas, kulumat, dan kulepas kemabali. Sampai akhirnya badan Nanda mulai bergetar beda dari genjotan-genjotanya.

”ren..aku keluaaaaaaaaarr.....Oowwwhhhhhhh........aaahhhh... aahhhhhh.....”, nanda kembali orgasme untuk ke dua kalinya saat ini.

Kini kuubah posisi berganti kepososi Doggy, sambil kuremas-remas toketnya yang ranun begitu indah. Belum pernah kuremas toket seranun dan sesexy ini, fikitku. Kupercepat genjotanku maju mundur, terlihat dia makin menjadi-jadi. Nanada meremas tanganku, dicengkramnya hinga ad secuil luka di jariku karena kukunya yang panjang bercatkan hijau. kurasakan sensasi yang sangat-sangat indah, tak pernah kubayangkan aku bisa menikmati tubuh gadis ini.

”ren, aku cape..........bntar lagi aku keluaar:, kata nanda

”sabar sayang dikit lagi ren keluar kok, kit akluarin bareng aj”, sahutku sambil menggenjot tubuhnya

”iya sayang....mmmmphh...ohh.....trus say....ahhhhh.....aaaauugggghh...”, rintihnya kembali.

setelah 30 menit menggenjotnya, mulai kurasakan akan keluarnya Sprm ku.
’beib, aku mau keliar.....oooouuurgghh:, kataku padanya
”aku juga..” sahutnya

”’Crooottttzz,,,,,crottt...crooott,,,,croottt..... croottt....crtooooottt..” banyak kali terasa spermaku muncrat kedalam V-ny.
ternyata beda tipis selisih waktu kita keluar. Kucabut Kntlku dari V-ny. Terlihat Sprm ku mengalir dan menetes dari V-ny. Reflek tangan Nanda mengembat Kntlku langsung di emut-nya menghabisi sisa Sprm yg ada di Kntlku.

”MMmmmmphh..say Sprm km nikmat, walo dapet dkit.....mmphhh” dengan ganasnya menikmati Kntlku.

Terasa kelelahan meyertai kita, bergegas aku kekamar mandinya untuk membersihkan tubuhku, begitu jug adirinya. Tak luput ku mainkan juga toketnya yang indah disana.

”Nan, ga papa aq ngluarin didlm?”, tanyaku
”Gpp Ren, aku ada obat kok, nanti ku minum. Thx ya, aku satang kamu, aku sayang arab-mu, aku mau km ngisi kesepian ku ren”,pintanya
”ok Nda, aku sayang kamu” , jwbku singkat seraya memeluknya lalau mencium keningnya.
setelah kejadian itu, kami masih sering melakukan hubungan.

NIKMAT KERJA DI HOTEL

“hai abang!” terdengar satu suara yang sangat kukenali menyapaku dari belakang. Saatku berpaling ku lihat Ella sedang berjalan ke arahku. Ella menghulur tangannya lalu kusambut dan bersalaman terus dicium tanganku. Memang kebiasaan kami bersalam Ella akan mencium tanganku tanda hormatnya padaku yang menjadi abang angkatnya sejak setahun yang lalu.

“haa…ingatkan tak datang…” kataku seraya menghulurkan kain pario(kain batik yang sering dipakai untuk bersantai di pantai) berwarna hitam kepadanya.

“eh…kena pakai ni?” Tanya Ella.
“ya, temanya pun ‘beach nite’ kan?” jawabku.

Malam ini adalah malam tahun baru 2007. setiap tahun hotelku mengadakan acara yang sedikit meriah untuk menyambut tahun baru. Aku sebagai bar tender di pub dalam hotel ini sedari pagi sudah sibuk membuat persiapan. Ella dan beberapa waitress di restoran ku minta datang pada pukul 9 pm sebagai back up kerana aku tahu malamnya pasti sibuk dan kaptenku Noni pasti membutuhkan bantuan.

“oklah..” jawab Ella setelah ku tegaskan bahawa waitress mesti mengenakan kain pario pada malam itu. Ella kemudiannya keluar membawa kain pario tersebut dan kembali tak berapa lama.

“bang, tolong simpankan seluar jeans Ella ni” Ella menghulurkan jeans biru yang dikenakan tadi.

“Ella tak bawa seluar tight, pakai CD aja”

Sambil berdiri di sebelahku Ella menunujukkan belahan kain parionya yang hanya diikat di bahagian pinggul. Ikatannya berada di sebelah kiri pinggulnya dan jika ia melangkah maka terlihatlah peha mulus miliknya hingga ke pangkalnya. Aku dengan bersahaja menyelak sedikit belahan parionya hingga terlihat CD Ella yang berwarna merah. Ella hanya membiarkan kelakuanku membuatku lebih berani mengelus lembut pantatnya.

Aku memandang wajah Ella sambil tersenyum. Ella membalas senyumanku dengan raut wajah yang tidak ku fahami.

“it”s ok, dalam pub ni gelap. Orang tak nampak.” Kataku setelah ku tarik kembali tanganku dari dalam parionya.

Ella hanya tersenyum kemudian meninggalkanku di dalam bar menuju ke ruangan tangah pub di mana dia akan ditugaskan. Aku memandang Ella dari belakang. Goyangan pinggulnya sangat menggoda. Kerana itulah aku sering meraba pantatnya. Tetapi hanya sebatas itu. Aku tidak berani berlebih-lebih. Ella juga tidak pernah memarahi perbuatanku meraba pantatnya. Seringkali juga ku ramas-ramas pantatnya kerana tidak tahan. Ella hanya tertawa melayan gelagatku.

Ella memang berani dari segi pemakaian. Celana jeans ketat dan t-shirt ketat belahan dada rendah memang selalu dikenakannya. Berkulit putih gebu, buah dada yang agak besar bagiku, berwajah manis keturunan bugis dan pantatnya yang sering membuat penisku mengeras. Ella memang cantik. Aku bangga mempunyai adik angkat secantik Ella. Seringkali juga Ella menceritakan padaku beberapa orang manager hotel tempat kami bekerja menggodanya. Pernah satu hari Vincent yang terkenal dengan sikap kurang ajar itu meraba pantatnya, kemudian Ella memaki hamun kepada orang tua tak sedar diri itu yang membuatnya tersentak dan malu sewaktu lunch break di café hotel. Tapi aneh, Ella tidak pernah memarahiku jika pantatnya kuraba dan ku ramas sesuka hati.

Jam 11pm pub mulai penuh dengan pengujung. Aku jadi sibuk menyediakan minuman yang dipesan. Berpuluh gelas cocktail dan 2 barrel beer membuatku sedikit berpeluh. Dan ketika jam menunjukkan 12 tengah malam, suasana di dalam pub semakin bising dan riuh. Ketika itulah Ella menghampiriku.

“happy new year!” katanya. Yang membuatku terkejut ialah Ella mencium pipiku yang tak pernah dilakukan sebelum ini. Apalagi di hadapan khalayak ramai.

“happy new year” balasku.

“kenapa cium di pipi? Kalau di bibir kan lebih syok” sambungku sekadar niat mengusik. Tanpaku duga Ella menarik tanganku dan kami keluar ikut pintu belakang pub. Sampai di belakang Ella hanya diam menatapku penuh erti. Aku mengerti kemahuannya cuma dia malu. Lalu dengan pantas ku raih wajahnya mendekati wajahku. Bibir kami bertemu saling berkucupan dengan ganas. Tak ku sangka Ella sangat handal bertarung lidah. Lidahku terasa disedut-sedut ke dalam mulutnya yang mungil. Aku tidak mahu kalah dan ku balas sedutan lidahnya.

Setelah lima minit aksi bercium kami lakukan, kami sama-sama berhenti dan saling menatap wajah masing-masing. Kami seperti dapat merasakan gejolak yang membara di dalam diri. Kemudian kerana belum puas ku rangkul pinggangnya dari hadapan menarik tubuhnya rapat ke tubuhku dan melumat bibirnya kembali. Ella membalasnya dengan rakus sambil nafasnya kedengaran bertambah berat. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Ku ramas kedua-dua belah pantatnya. Kemudian ku singkap parionya ke atas lantas kembali meraba pantatnya yang bulat dan besar yang masih ditutup CD. Aku pindahkan ciuman dan jilatanku kearah lehernya.

“ohh…mmm…abg…hhh” desahan lembut keluar dari mulut Ella.

Aku semakin berani memasukkan tanganku ke dalam Cdnya dan meramas pantatnya dari dalam CD. Ku julurkan jari tengah kearah belahan pantatnya. Kumainkan jariku sebentar di lubang anusnya sebelum menuju ke vagina Ella. Tangan Ella juga tidak tinggal diam. Sebelah tangannya memeluk tubuhku, manakala yang sebelahnya menggosok penisku yang sudah mengeras dari luar celana. Sungguh nikmat kurasakan tangan lembutnya mengelus penisku.

Aku sudah tidak memikirkan bahawa ketika itu kami masih lagi dalam waktu bekerja. Jariku sedari tadi sudah memasuki liang vagina Ella yang basah akibat kenikmatan yang kuberikan. Cdnya sudah kuturunkan sebatas pehanya. Setelah puas menyerang vaginanya, ku pindahkan kedua-dua tanganku menuju ke arah dua bukit nikmat di dadanya. Ku singkapkan t-shirt putihnya ke atas sehingga menampakkan buah dadanya yang dibaluti bra half cup berwarna hitam. Tanganku lantas menuju belakang tubuhnya mencari kaitan branya, dan dengan sekali sentap terlepaslah kaitan branya. Tanpa buang masa tanganku dengan agak keras meramas buah dada yang menjadi pujaanku selama ini. Sambil bibirnya kembali kulumat dengan bibirku, ku picit-picit kedua-dua putingnya yang mengeras.

“aahh…abg…mmmhhh…ohhh…” desah Ella diselangi dengan cumbuannya yang sekarang sudah berpindah ke leherku. Kadang disedut dan digigitnya leherku yang pasti meninggalkan kesan merah. Aku tidak mempedulikan itu semua. Apa yang ada di benakku ialah untuk memenuhi tuntutan berahiku saat ini dengan seorang gadis cantik yang sedang berada dalam taklukanku. Serangan bibir dan lidahku kuarahkan kearah dadanya yang sangat indah itu. Kujilat, kusedut, dan ku gigit semahunya kedua-dua puting merah kecoklatan itu bergilir-gilir. Serangan-serangan nikmat yang ku lancarkan membuat Ella menjerit kecil dan menekan kepalaku ke arah dadanya.

“abg…sakit…ohh sedapnya…aawww…” tidak karuan lagi desahan dan rintihan Ella yang membuatku lebih teransang.

Tiba-tiba kurasakan penisku sudah tidak berada di dalam sarangnya. Entah sejak bila Ella membuka celanaku mungkin kerana aku keasyikan menikmati tubuh gebu milik Ella sehingga tidak sedar celana panjang dan celana boxerku sudah separas lutut. Ella dengan lembut memegang dan mengocok penisku. Berdesir darahku menahan nikmat kocokan tangan halus Ella yang semakin rancak menjalankan tugasnya. Penisku berukuran biasa, tidak seperti yang sering kubaca di dalam cerita-cerita lain di mana penisnya seperti saiz orang America atau Eropah. Terang-terangan membohong.

“Ella, hisap sayang…” bisikku ke telinganya. Aku ingin sekali merasakan sentuhan bibirnya yang sangat seksi itu dan menguji setahap mana servis oralnya.

Ella mencangkung di hadapanku sambil tangannya terus memegang dan mengocok lembut penisku. Mulai dari jilatan pada pangkal penisku menyusuri batangnya dan terus ke bahagian kepala penisku. Diulangnya beberapa kali sebelum mula mengulum penisku. Perlahan namun nikmatnya sukar untuk kugambarkan dalam cerita ini. Dari atas ku lihat pandangan yang cukup erotis dimana seorang gadis berwajah cantik sedang memberi oral seks. Setelah kurasakan puas dengan kuluman mulut Ella, ku tarik tubuhnya berdiri dan bibir kami bergelut kembali tetapi tidak lama kerana aku sudah tidak sabar untuk merasai kehangatan vagina Ella. Aku menyuruhkan berpaling membelakangiku dan sedikit membongkok. Tangannya menahan pada dinding. Segera kugeselkan penisku ke permukaan vaginanya yang terasa banjir. Perlahan-lahan ku dorong pinggulku, hanya kepala penisku yang masuk kerana vagina Ella terasa sangat sempit.

“aduh…tunggu bang…tahan dulu…eerghh” Ella menahan sakit memintaku berhenti seketika. Aku turutkan kemahuannya kerana aku memang tidak suka memaksa.

“tahan ya sayang..” kali ini aku tekan sedikit keras dan hasilnya setengah batang penisku berjaya memasuki liang vaginanya. Kudiamkan sebentar untuk membolehkan dinding vaginanya menerima kehadiran penisku. Setelah nafasnya kembali tersusun Ella meminta aku memasukkan seluruh batang penisku ke liang nikmat miliknya.

“lagi bang…masuk lagi…adik boleh tahan…ohh…” kata-katanya tersekat kerana aku menyentakkan pinggulku sehingga rapat ke pantatnya.

“aahh..ella…sedapnyaa…” erangku tak mampu lagi menahan sensasi yang kurasakan.

Penisku tersasa dikepit erat oleh dinding vagina Ella. Ella memang bukan perawan lagi tetapi tidak pernah melakukan hubungan seks setelah perawannya direnggut mantan kekasihnya tidak lama dahulu. Perlahan-lahan aku menggerakkan pinggulku dengan gerakan sorong-tarik. Sungguh mengasyikkan menikmati geseran lubang vagina Ella yang sempit. Makin lama makin cepat gerakan pinggulku sehingga kedengaran bunyi gerlaga tubuhku dengan pantat Ella. Aku mengamati saat-saat pelanggaran tubuhku dengan pantatnya, sesungguhnya aku amat suka melihat pantat besar milik Ella bergetar menerima tusukan-tusukan keras dariku

“aahhh…aahh…abang…ohh…mmmppphhh…sedap bang…” Ella kembali meracau setelah kesakitan vaginanya bertukar menjadi nikmat yang sangat membuatnya teransang hebat.

“sedap sayang?” tanyaku sambil tanganku meraih ke hadapan tubuhnya lalu meramas kedua-dua buah dadanya.

“sedap bang…oohh lagi bang…laju lagiii…aaarrggghhh…” erangan keras keluar dari mulut Ella mengiringi orgasme yang melanda dirinya. Kakinya dirapatkan, tubuhnya bergetar hebat dan hampir jatuh. Mujur aku sempat menahan tubuhnya daripada jatuh. Ku biarkan Ella menikmati orgasmenya tanpa menarik keluar penisku.

“abang…Ella puas bang…kalau Ella tahu yang abang pandai membuat Ella macam ini, dari dulu lagi Ella minta…” ujarnya setelah dia dapat mengawal dirinya.
“abang belum sampai ni sayang..” kataku tertahan tak sanggup lagi aku menunggu lama lalu ku tarik penisku keluar dan memalingkan tubuh Ella menghadap ke arah ku. Aku lihat terdapat sedikit linangan airmata di wajahnya.

Lalu aku angkat sebelah kakinya melingkar di pinggulku dan mengarahkan penisku menuju vaginanya. Kedua belah tangannya memegang bahuku menahan tubuhnya. Lalu kuteruskan permainan yang belum sudah dengan gerakan yang cepat. Kembali Ella merintih kuat. Bibirku mencari bibirnya yang mungil lalu sambil ku pompa penisku kami berkucupan. Setelah lebih kurang sepuluh minit kurasa spermaku ingin keluar lalu kupercepatkan tusukanku dan tusukan terakhir yang keras sedalam-dalamnya ke dalam liang vagina Ella. Rupanya Ella juga menikmati puncaknya ketika itu.

“aarrgghh abang sampai…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Begitu banyaknya spermaku kucurahkan ke dalam vagina Ella sehingga sebahagiannya meleleh keluar membasahi pehanya.

“maaf, abang keluar di dalam” risau juga kerana takut Ella hamil.

“ tak apa bang, Ella baru dua hari lepas tamat period” jelas Ella yang membuatku lega.

Kami kemudian merapikan pakaian, lalu aku masuk kembali ke dalam pub seperti tidak berlaku apa-apa. Manakala Ella menuju ke tandas untuk membersihkan vagina dan pehanya. Sesampai di dalam bar aku meneguk segelas bir kerana kehausan. Kemudian, Lia cashier di pub itu menghampiriku lalu berdiri rapat di sebelahku. Tangannya memeluk pinggangku. Memang Lia manja denganku dan perlakuan seperti ini sudah biasa bagiku namun apa yang diucapkannya membuat jantungku seperti berhenti.

“abang berani betul ya main di belakang sana…”

“Lia nampak?” aku lihat Lia melihat ke arahku dengan mata yang tajam.

“tadi semasa Lia hendak ke tandas, Lia buka pintu dan nampak abang dengan Ella…” Lia tidak meneruskan kata-katanya. Tangannya lantas menggenggam penisku dari luar celanaku. Terasa ngilu kerana baru habis bertempur.

“lain kali giliran Lia pula yaa…” katanya sambil menghadiahkan satu kucupan lembut di bibirku.

“mm…ya..ya..” kataku gugup kerana tidak menyangkakan hal tersebut.

Lia kemudian melepaskan genggaman tangannya pada penisku dan menuju ke kaunter cashier. Nanti pula akan kuceritakan kisahku dengan Lia yang bagiku sangat mengasyikkan.

Setelah kejadian itu aku sering melakukan hubungan seks dengan Ella di rumah sewaku. Memang indah setiap kali melakukannya dengan Ella yang sehingga kini tiada seorang pun yang mengetahuinya. Ella kini sudah berumahtangga dan mempunyai seorang anak lelaki. Setelah dia menikah kami tidak lagi meneruskan perbuatan kami kerana kukatakan pada Ella yang dia harus setia dan menjaga hubungan suami isteri dengan baik dan jujur.

Perkenalkan nama saya Budianto,biasa sipanggil budi. Saya karyawan di bilangan Sudirman, usia 28 th dengan tinggi 165 cm dan berat 65 kg. orang bilang saya mempunyai wajah yang lumayan, tidak terlalu sulit bagi saya untuk mendapatkan wanita.
Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu berkenalan dengan permainan seks. Waktu itu sepulang kantor seperti biasa saya pergi ke sport club di bilangan Sudirman juga untuk fitness sambil menunggu jalanan lancar. Dan di tempat fitness tersebut saya berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja tante Ratna. Beliau kurang lebih berusia 38 th, mempunyai body yang sexy dengan ukuran dada kurang lebih 36B, tinggi 160 cm dan memakai pakaian olahraga dengan model sport bra dan celana pendek yang sangat pendek, persis dibawah pangkal paha, terlihat otot perutnya yang sudah mulai terbentuk, persis seperti seorang personal trainer.
Tante Ratna ini juga ternyata bekerja di bilangan Sudirman dekat dengan kantor saya, dari tempat fitness itu kami mulai berkenalan dan mulai sering pergi bersama,enatah itu Cuma makan siang atau nonton. Sampai suatu saat tante Ratna mengajak saya untuk pergi clubbing dan setelah itu saya diajak mampir ke Apartmennya. Karena kami sudah begitu akrab maka saya tidak menolak tawarannya.
Sampai didalam apartemen tante Ratna ingin berganti pakaian dan dia lupa menutup pintu kamarnya, dan rupanya tante ratna sengaja tidak menutup pintu kamarnya untuk memancing birahi saya.dan dia mengajak saya masuk kedalam kamarnya,pada saat itu saya sangat terkejut,ternyata body tante ratna memang begitu sexy, badannya sangat padat dan terlihat sedikit berotot dengan dadanya yang sintal,mungkin karena terlalu banyak berolahraga.
Pada saat itu saya hanya bias mematung tetapi tante Ratna dengan penuh birahi mendekati saya dan mulai mencium bibir saya, saya pun membalas dengan penuh birahi, dan hanya dalam hitungan menit kami sudah telanjang bulat didalam kamar, lalu tanpa dikomando saya langsung merangsang tante ratna dengan meremas dan menjilati dada busungnya,setelah puas bermain didaerah dada, saya beralih ke daerah vaginanya dan tante ratna begitu menikmati kuluman saya.begitu juga dengan tante ratna, dia tidak mau kalah dengan memainkan penis saya.
Karena kami sudah tidak tahan makan tante ratna meminta saya untuk segera memesukan penis saya kedalam kemaluannya, ternyata lubang kemaluan tante ratna masih sangat sempit, tapi saya berhasil memasukannya dan kami bermain hampir satu jam lamanya. Saya berhasil membuat tante ratna orgasme 2 x dan dia pun berhasil membuat saya orgasme 1x. dan kami sama sama puas.akhirnya karena sudah sangat lelah kami tertidur dengan kondisi bugil, dan pada esok paginya kejadian tersebut terulang kembali.
Sampai sekarang saya dan tante ratna masih suka melakukan hubungan itu.
Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku untuk bertemu dengan keluarga.

Hidupku sungguh sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku mendapatkan kerja yang cukup nyaman di sebuah perusahaan telekomunikasi cukup besar daerah Jakarta Selatan. Tinggal jalan kaki ke Pondok Indah Mall. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Perjalanan cinta kami bisa dibilang cukup mulus. Benar-benar sebuah hidup yang sempurna. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan sangat teratur. Sepanjang sejarah kehidupanku, bisa dihitung berapa kali aku melanggar aturan atau norma. Kenakalanku paling besar hanyalah minum tomi (topi miring in case you're wondering) dan sedikit magadon, waktu acara naik gunung di SMA. Tapi itu dulu.

Hampa kadang terasa. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Kadang aku ingin, sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sekali dalam seumur hidup.

Aku beranjak di tengah kerumunan calo-calo untuk mencari busku. Sumber Alam. Langgananku selama 2 tahun terakhir.

"Mbak, Sumber Alam yang Bisnis belum datang ya?" tanyaku kepada seorang petugas loket. Manis juga. Item manis sih tepatnya.
"Dereng mas, jogja ya? Mangke setengah jam malih ...," Lho, kok bahasa jawa?
"Nuwun nggih mbak."

Aku duduk menunggu. Asap bus benar-benar menyesakkan. Aku merasakan diriku sesak napas. dari dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan kesesakan Jakarta. Tapi kepepet sih, harus cari upa ("cari nasi") di Jakarta.

Tak lama kemudian bis itu datang juga. AB 7766 BK. Aku bergegas naik. 14A. dua tempat duduk. Aku sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Biar bisa tidur lelap. Aku segera menutup mata. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.

"Mas, mas, maaf ...," ada suara merdu rupanya. Aku membuka mataku.
"Maaf, apa boleh tukeran sama suami saya? Suami saya dapat tiket tempat duduk di seberang. Soalnya beli tiketnya baru aja tadi."

Aku melihat ibu yang menyapa tadi. Kemudian melihat suaminya yang tersenyum mengangguk kepadaku di seberang kursi kami, menggendong anak yang kira-kira berusia 5 tahun.

"Aduh, bu, maaf, bukannya saya tidak mau, cuman memang saya sengaja memilih tempat di bawah AC ini bu. Maaf ya," jawabku agak keberatan. Bukannya apa-apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan masalah orang yang telat membeli tiket seperti pasangan ini.

Ibu itu cemberut. "Ya sudahlah pa, kita ngalah aja. Aku duduk di sampingnya mas ini aja."

Whatever. aku kembali menutup mataku.

Perjalanan ini sesungguhnya bakal menyenangkan, kalau tidak harus mendengar rengekan anak 5 tahun yang sepertinya tidak pernah diam itu. Belum lagi suara ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya. Aku jengkel banget.

Hujan mulai turun. Airnya menetes membentuk alur di kaca jendelaku. Masih terjebak di Cawang. Sial.

Untung Cikampek tidak macet. Kendaraan mulai menderu, bertambah cepat. Kulihat tebaran warna hijau ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri jalan tol. Suara air hujan menderu keras sekali di atas atap. Orang-orang sudah mulai menampakkan kantuk, dan sepertinya suasana menjadi begitu sepi. Uh, begitu romantis. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk lenganku. Kalau saja ....

Aku memandang ke samping. Ibu itu kini sedang sibuk memberikan makan kepada anaknya. Si bapak sedang sibuk dengan PDAnya. Tipikal keluarga Jakarta, berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak. Tampaknya keluarga berada. Tapi ngapain naik bis ya? Ah, peduli amat.

Aku kembali menutup mataku. Hari berangsur gelap.

"Pengumuman, bapak ibu. Mohon maaf bahwa ada kerusakan teknis yang menyebabkan lampu tidur tidak dapat menyala," kata kenek bus itu mengagetkan aku.

"huuuuu," para penumpang menyahut serentak. Sip. aku paling tidak suka lampu tidur yang remang remang. Aku paling suka gelap. Tidurku pasti nyenyak malam ini. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.

------------

Aku melirik jamku. Jam 9 malam. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Tidak terkecuali ibu dan anak di sampingku. Bus tadi baru saja berhenti di tempat makan. Orang-orang makan malam dan ke belakang. Pasti mereka kekenyangan, dan acara yang paling menyenangkan setelah makan adalah tidur. Hujan masih turun, rintik-rintik. Aku melanjutkan tidurku.

Tidak berapa lama aku terlelap, aku merasakan kaki anak di sebelahku menyentuh kakiku. Sialan. Itu berarti sepatu anak itu kena celanaku. Aku menggeser-geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan celanaku. Tentu saja dengan mata terpejam. Tidak disangka, kaki itu balas menggesek. Eee, kurang ajar. Aku segera membuka mataku untuk menegur orang tuanya. Aku terkejut.

Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Itu kaki orang dewasa. Kaki ibu itu. Si anak ternyata sudah tidak ada di pangkuan dia. Kemungkinan ada di pangkuan si bapak. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain yang akan terjadi. Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Dan ibu itu balas menggesek. Aku sedikit membuka mataku. Kilatan cahaya dari luar bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di sampingku. Matanya juga terpejam ternyata.


Tiba-tiba ibu itu menggeser sedikit tubuhnya. Ya, kearahku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Sisi samping kananku menempel pada bagian kiri tubuhnya. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Aku mulai terangsang.

Aku mencoba untuk lebih berani. Tubuhku aku condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku bergeser ke arahnya. Sehingga posisi saat itu, lenganku tepat di depan dadanya. Tubuh itu diam saja. Lenganku kemudian ku tekan sedikit ke belakang, sehingga aku bisa merasakan sesuatu yang begitu empuk. Ya, payudaranya. Payudaranya besar. Aku bisa merasakan volumenya ketika lenganku menggeseknya. Dan sangat empuk. Sikuku kemudian membuat gerakan melingkar di dadanya. Pelan sekali, sikuku bergerak. Aku tidak mau membuat ia berpikir macam-macam dan kemudian menamparku.

Tubuh itu diam saja. Kulirik matanya. masih terpejam. Tapi aku mendengar dia menghela napas. Jadi ia terangsang. Aku? sangat terangsang. Aku merasakan dadaku berdentum-dentum. Kepalaku berputar-putar karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Aku bisa mendengar degup jantungku di telingaku sendiri. Aku akan melakukan dosa. 4 hari sebelum pernikahanku. Sepanjang sejarah hidupku. Tapi perasaan itu, nafsu itu, benar-benar membuat aku tidak tahan .....

lenganku terdiam sebentar dari kegiatan menggesek dadanya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu mulai mengelus pahaku. ya, pahaku yang dibalut celana panjang kain warna coklat. Tangannya sangat perlahan mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas lutut. Aku gemetar. Sangat gemetar. Aku tidak tahan ......

Sekarang posisiku berubah. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Aku sudah memakai jaket tentu saja, karena aku tidur di bawah AC. tapi sweater tadi untuk maksud lain. Sweater tadi kemudian aku tutupkan di atas dadaku, dan kemudian tanganku kulipat. Apabila dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya kedinginan karena AC. Tapi bukan itu alasannya. Aku beringsut lagi mendekati tubuhnya. Tangan ibu itu masih mengelus pahaku. Kami berpandangan sebentar. Lucunya, setelah itu kami berdua kembali bersender pada tempat duduk kami dengan mata terpejam. Tanganku mulai beraksi. Tangan kiriku yang tadi dilipat mulai bergerak ke arah dadanya. Sangat pelan. Tangan itu mulai menyusuri bukit indah yang tertutup kain, mulai dari tepi. Aku sangat menghayati momen itu. Pelan-pelan kuelus bukit indah itu, dari tepi ke kanan. Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Aku tidak mau menyakiti bukit indah itu. Sungguh, ibu itu mempunyai dada yang sempurna. Besar, dan sangat kenyal. Aku merasakan bahwa dia memakai BH yang berenda. Aku membayangkan bentuknya. Mungkin warnanya hitam. Atau merah. Dan rendanya sedikit tembus pandang. Mungkin cupnya cuma setengah. Mungkin cupnya tidak bisa menahan volume payudara sebesar itu. Oooh, aku semakin terangsang.


Ibu itu mengenakan baju jeans terusan dengan bawahan rok dengan kancing dari dada sampai di lutut. Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Sangat merangsang. Aku melirik sedikit ke arah dia. Dia masih terus mengelus pahaku. Aku tidak sabar. Tangan kananku yang nganggur kemudian memimpin tangannya ke penisku yang sudah tegang. Aha, dia mengerti. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang tercetak jelas di dalam celanaku. OOoh, mantab.

"Besar .....," desisnya. Matanya tetap terpejam. Mataku juga.

Aku melanjutkan kenakalanku. Kali ini, dua kancing tepat di depan dada besar itu aku buka. Dengan susah payah. Pernah membayangkan membuka kancing-kancing besar pada kain jeans? Yup, susah sekali. Akhirnya dia turun tangan. Tangannya kanannya membantuku membukanya.

Tanganku kemudian masuk pelahan ke dalam bajunya, untuk merasakan keindahan payudara di baliknya. Bayanganku memang menjadi kenyataan. BH setengah cukup yang terlalu kecil, dengan renda yang sangat merangsang. Aku suka sekali renda, terutama apabila renda itu ada di tempat yang tepat. BH dan celana dalam. Aku kembali mengelus dadanya. SEkarang aku sedikit meremasnya. Sensasinya benar-benar luar biasa. Dia mendesis. Kepalaku berdentum-dentum. Jantungku berdebar sangat keras.

"Buka," bisikku lirih. Mungkin tidak terdengar. Tapi aku tidak mau mengambil resiko terdengar. Apalagi oleh suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya. Ternyata dia mendengar. Dia berhenti mengelus penisku, membungkukkan sedikit badannya, dan kemudian berusaha melepas kait BHnya di belakang. Agak lama dia membukanya. Selagi dia membuka BHnya, pelahan aku menarik ritsleting celanaku ke bawah. Pelaaan sekali. Setelah itu, aku memelorotkan celana dalamku. Tidak melorot sih sebenarnya. Cuman mengaitkan kolornya ke bagian bawah penisku. Tidak nyaman memang. Tapi sekarang penisku bisa bebas mengacung menunjuk langit. Menanti elusannya.

Sepertinya kait BHnya sudah lepas. Tangan dia sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang tadi lepas. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah tegak menjulang, keluar dari celana. Kemudian dia seperti terkejut dan kemudian menarik tangannya dan kemudian melipatnya di depan dada. Pura-pura tidur, sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah terbuka lebar.

Sial. ada orang mau ke toilet. dia berjalan melangkah dari depan. Untung aku ada sweater yang bisa menutupi si "burung" nakal. Aah, seorang wanita. Bakalan lama nih. Jantungku berdegup keras.

Lama sekali orang itu di toilet. Aku mulai tidak sabar. Penisku sudah mulai menyusut. ya iyalah, baru juga pemanasan. Kepotong deh. ....

Akhirnya wanita itu lewat juga di di samping kami. Uuuh, lega. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di bawah sweater, mencari "adikku" yang mulai tegang lagi. hmmm. Tangannya sungguh mulus, dan sentuhannya, benar-benar nikmat. Dia tahu betul cara merangsang penis dengan sentuhan. Sentuhan itu ringan, seperti melayang. Dia tidak meremas, atau menggosok terlalu keras. semuanya serba ringan dan melayang. Dan itu membuatku melayang.

Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Si bukit kembar yang kenyal. Dan tangan itu menemukan sasarannya. Dada itu benar-benar lembut. Mulus tak bercela. Aku meresapi setiap jengkal usapan tanganku di dadanya. Meremas pangkal dadanya. Memilin putingnya. Putingnya. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Dan keras. Sangat keras. Sperti penis kecil. Aku memilinnya. lagi. Dan dia mendesis.

"jangan keras-keras," bisiknya sangat lirih. AKu mengerti. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Benar-benar nikmat.


Tapi tetap ada yang kurang. Kami berdua tidak terpuaskan. Penisku tetap tegang luar biasa. Dan rasanya mulai sakit sekarang. berdenyut-denyut ga karuan. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat terus-menerus. Dia mengerti hal itu.

"Ke bawah ....," bisiknya sambil mengarahkan tanganku yang tadi ada di dadanya ke arah bawah. Aku langsung tanggap. Tanganku berubah posisi, mengelus pahanya yang tertutup kain jeans. Tidak berasa memang. Tapi dari gerakan tubuhnya aku tahu, dia sangat terangsang. Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Pelan-pelan aku naik sedikit ke atas, tepat di gundukan di bawah pusar itu. Dia menahan tanganku.

"Jangan ... "

Aku nekat.

"Jangan ..." Ok. Aku turuti. Aku kembali mengelus pahanya. Kali ini tanganku lebih berani. Kupegang ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Dia tidak menolak. Aku kembali mengelus pahanya. Hhhm, sungguh mulus. Benar-benar mulus. Aku merasakan bulu-bulu halus di telapak tanganku. Dia terengah-engah. Tangannya sejak dari tadi berhenti mengelus penisku. Tak apa. lebih baik begitu daripada menyiksa "adikku" yang sudah tegang luar biasa.

Aku tiba-tiba menghentikan elusanku dan menarik tanganku. Kemudian memandang ke arah dia. Matanya bertanya. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.

"Aku mau itu," bisikku mendekat di telinganya, sambil menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.

Dia menggeleng. Aku kemudian berpura-pura tidur. Memejamkan mata.

Lama sekali. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu. Tangannya menarik tanganku dan mengarahkannya ke tempat yang aku inginkan. Hehehehe, aku menang. Dia tidak tahan. Tanganku sudah berada tepat di atas gundukan itu. Dia membuka kancing bajunya tepat di area itu. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya. Dapat.

Jelas, ini sutra. Atau Satin? aku tidak peduli. bahan kain celana dalamnya halus sekali. aku merabanya. memastikan. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang kucari. Sesuatu itu sudah basah. Pasti basah, karena aku merasakannya dengan tanganku. Tanganku berhenti di situ. Merasakan bentuknya. Sedikit bergelombang. Aku merasakan lipatan vertikal. Bulu-bulu halus di sekitarnya. Cukup tebal. dan sangat basah. Aku tersenyum kembali. Penuh kemenangan. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Pelan, tapi sedikit menekan. Dia mendesis. Oh tidak. Dia melenguh. Tetap memejamkan matanya.

Aku makin berani. Celana itu aku pegang elastisnya. dan aku turunkan ke bawah. Dia memegang tanganku. Aku tetap berkeras. Dia menyerah.

Kembali jari tengahku mencari tempat tadi. Jari itu mencari sumber kenikmatan seorang wanita. Sebuah penis kecil yang sudah amat basah. Aku menggoyangnya pelan dengan jariku. Kemudian mengelusnya. Kemudian menekannya. Tubuhnya menegang.

Aku kembali mengelusnya. Pelan dan sedikit menekan. Pelan dan sedikit menekan. Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Jariku masuk lebih ke dalam. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat basah. Benar-benar basah. Rongga itu seperti tidak berujung. Kemudian jariku kugerakkan. ke dalam dan ke luar. Berulangkali.

Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam. Ada sesuatu yang mencengkeram. Dan rasa itu kembali membuatku terangsang. Aku terus menggerakkan jariku. Semakin cepat. Tiba-tiba jariku seperti ditumpahi cairan hangat. kental. Dia terengah-engah. Tubuhnya menegang. Kali ini cukup lama. Aku terus menggerakkan jariku. Dia kemudian menahan tanganku. Aku menurut. Aku memandangnya.

Matanya terpejam. Seperti menghayati sesuatu. Mungkin orgasme. Dadanya naik turun, terengah-engah seperti habis lari kencang. Kancing masih terbuka.

"Apa kau ..?"
"Ya ... . Luar biasa ...," bisiknya, memandang kepadaku. Oooh, senyumnya manis sekali. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.

Dia memandang ke bawah tubuhku.
"Kasihan ya,..." senyumnya menunjuk ke "adikku". Ya iyalah. "adikku" tidur nyenyak sementara dia sendiri terpuaskan. Paling tidak dengan jariku.

"ga papa ..."